Selasa, 27 November 2012
Senin, 26 November 2012
PENYEBARAN DAN HUBUNGAN ANTAR ETHNIS

Jumlah keseluruhan suku Tidoeng diperkirakan 70.000 sampai 80.000 jiwa ( lihat Label 1 untuk data kependudukan suku Tidoeng ). Beberapa suku Tidoeng berpindah-pindah , dan kebanyakan dari mereka tidak lagi menggunakan bahasa nenek moyang mereka, tinggal dan hidup di Berau, Kutai ( Kutai Lama, Sangkulirang, Sangata, anggana dll ) di teluk Jakarta dan Dua Pulau, yaitu pulau Tidoeng Besar dan Kecil, atau di kepulauan Sulu bagian selatan yaitu Kepulauan Sulu ( Sibutu, Simunul, Bunggow dan Setangkai dll ).
Di Sabah bagian Barat terdapat suatu kelompok kecil murutic kumpulan dari kuala penyu yang disebut tenggara atau tengarah, yang memiliki tetangga diluar keturunan suku tidoeng yang bukan islam. Sesungguhnya,bahasa mereka mirip dengan dialek Tarakan ( Censa dan Uhlenbeck 1985 : 30 ).
Tidoeng Tarakan ingat bahwa pulau ini juga disebut Tenggara, atau desa Turakon/kampung Raja Tara, Setelah penemuan Kerajaan ( Amir Hamzah 1998). Terakhir, penduduk suku Tidoeng mencapai 100.000 bahkan lebih, dan bercampur dengan orang Kayan seperti halnya Melayu yang tidak menjadi pertimbangan mereka sebagai orang Tidoeng. Menurut sejarah, Nenek Moyang Suku Tidoeng Menetap sebagian besar di cekungan Kinabatangan dan sebagian Sipitang ( Labuq Sugut Sabah Timur dan Sibutu,Simunul, Bunggow dan Setangkai, Mindanau Philipina Selatan ) dan Morotai ( Halmahera ). Walaupun demikian saya sendiri tidak memiliki koroborasi ini sekalipun begitu sangat mungkin mempunyai hubungan pada waktu dulu ketika suku Tidoeng masih memainkan peran pusat perdagangan di perairan Brunei bersama Kerajaan Sulu, Sulewesi, dan Pulau Maluku.
Bruneibiasanya menggunakan orang-orang Pantai Borneo Laut, biasanya sebagai kekuatan Bahari untuk melindungi Wilayahnya sepanjang pulau Philipina bagian barat ( Nicholl 1980 ). Dengan cara serup, mereka menempatkan Prajurit suku Tidoeng ke pedalaman bagian timur. suku Tidoeng masih menguasai terusan yang luas sampai ke Sulu, Balambangan, dan Labuan dalam Abad ke 18, bahkan setelah kemunduran kekuasaan Tidoeng atas Pantai wilayah Borneo Timur Laut ( Forrest 1792 : 374 ). Walaupun suku Tidoeng pada waktu itu telah menjadi Islam, mereka masih mampu berkomunikasi lancar dengan orang non muslim yang tinggal di pegunungan, yaitu kelompok Muritic seperti Tenggalan juga Tegala:N, Tengalan dll,Tagal. ( Tagel,Tagol ) dan Bulusu ( Belusu,Berusu ) di Kalimantan Timur, mereka masih lancar berkomunikasi dengan suku lain yang tinggal di Idahan dan Sunga Tembanua, Tombonuwo di daerah Sabah. Kemungkinan ada ikatan lama seperti Bajau, Basap (Lebu) dan orang-orang Kayan, semuanya pernah membantu suku Tidoeng mengawasi Perdagangan. Suku Tidoeng membaur dengan semua kelompok itu bersama-samamembenmtuk Pemerintahan Pantai. Waktu itu, mereka lebih menyukai kawin dengan tetangga Muslim seperti Sulu, Bugis, Brunei, Arab dan orang-orang Melayu lainnya.
B. MATA PENCAHARIAN
Secara
umum, suku Tidoeng dikenal sebagai Nelayan. Suatu hal yang membedakan
mereka dengan suku Bajau, Sulu dan Brunei. Suku Tidoeng cenderung lebih
suka tinggal di daratan dari pada di atas air atau sampan. Ada juga
sebagaian suku Tidoeng yang lebih suka tinggal di perairan seperti
halnya di pantai.
Walaupun
saya belum pernah dengar apapun secara lisan tentang hal ini bahkan
untuk Pemerintahan yang ada di Tarakan dan Nunukan. Kebanyakan suku
Tidoeng bekerja ganda baik Pertanian, Nelayan dan berburu seperti
orang-orang Borneo lainnya. Mereka menanam tanaman di ladang basah dan
kering dan sebagian besar bahan pokok seperti beras, jagung dan akar
umbi, pisang, kelapa, papaya dan pohon buah buahan lainnya. Dibandingkan
dengan penduduk pedalaman, mereka menanam sedikit sayur mayor seperti
terung, gandum, padi-padian millet ( biled ). Hanya sejumlah kecil
desa/kampung mengkhususkan mata pencahariannya memancing, berkelong,
betanang, memukat tarik dan pengumpul mutiara dll, seperti halnya kita
lihat di Sandakan dan di pantai seperti Sebatik, sebagian desa/kampung
sekarang berkonsentrasi pada penanaman kelapa sawit khususnya di wilayah
Malaysia. Gaya hidup orang Tidoeng lebih suka bekerja di laut, sungai
dan daratan disebabkan mereka lebih suka bekerja di sector perikanan,
pertanian dan perburuan. Sesungguhnya suku Tidoeng pada umumnya tinggal
di daerah pantai yang mungkin bukan berarti mereka lebih berkonsentrasi
pada sector tersebut. Akan tetapi member arti yang lebih jauh dan lebih
penting bagi mereka adalah Berdagang .
Mereka
dulu mengumpulkan dan menjual barang-barang local seperti sagu, rotan,
damar, getah gaharu, sarang burung, emas, mutiara, ketimun laut dan
sebagainya. Kehidupan mereka lebih banyak di lautan, beberapa kelompok
kecil suku Tidoeng lebih menyukai tinggal di tepi laut. Sebagai tentara
sewaan untuk sultan setempat. Suku Tidoeng juga dikenal Pemberani dengan
pekerjaan berbahaya seperti menangkap buaya dan berburu lebah. Pada
waktu Kolonial, mereka keluar mencari pekerjaan yakni pekerjaan Tambang (
batu bara, minyak, emas dll ) atau di sector perkebunan ( tembakau,
rami dll ), terutama pada wilayah kekuasaan Inggris.
Saat
itu suku Tidoeng dianggap sebagai orang yang rendah hati sebagai orang
yang sabar walaupun dengan gaji murah, mereka bekerja di pabrik-pabrik,
perkebunan atau menetap di respen, rancangan dan FELDA ( catat 3 ).
Dibandingkan
dengan suku Bugis dan sulu yang lebih suka cekcok, Bajau dan murut yang
bersifat keras kepala. Walaupun informasi ini saya dengan dari Sabah,
tentu saja ini menjadi catatan sendiri, karena ini menandakan
Karakteristik suku Tidoeng yang sangat berbeda dengan lainnya. Hal lain,
suku Tidoeng bersifat Individualistis, acuh tak acuh terhadap usaha
kerjasama dan tidak selalu melibatkan diri dalam organisasi social dan
dekat kepada keluarga termasuk persatuan Ethnis sekarang.
C. KEBUDAYAAN DAN IDENTITAS DIRI
Orientasi gaya hidup suku Tidoeng memiliki budaya yang beraneka ragam, seperti suku Tidoeng yang tinggal di pantai dan mengkhususkan pekerjaan tidak hanya nelayan tetapi juga berdagang dan perampok. Disebabkan mereka sudah berbaur dengan orang-orang kepulauan lain seperti Sulu, Bajau dan orang-orang laut lainnya, keturunan suku Tidoeng termasuk Tidoeng Tarakan dan Bulungan setiap tahunnya mengadakan acara peluncuran perahu Raja ( Pindaw Pepadaw di dalam dialek Tidoeng Tarakan atau turunka Biduk Bebandung Tujuh Dulung ( di dalam Melayu Bulungan, sesuatu yang sangat khas untuk sekelompok yang berada di pinggiran pantai.
Perahu Raja itu, berjumlah tujuh buah dan diikat satu sama lain dilengkapi dengan hiasan berupa Mahalijay ( Mahaligai ) atau istana, bendera ( Panji ), perhiasan dan ornament dolphin ( Lunghay ). Pada sisi lain suku Tidoeng yang tinggal di daratan termasuk yang berhasil dalam perdagangan sarang burung wallet terutama dari Sembakung dan Sebuku dan lebih menyukai untuk kembali ke pusat-pusat perdagangan di Borneo Timur laut daerah yang mendekati Sebuku Kinabatangan dan Labuk melalui laut.
Kelompok kecil ini masih ingat kehidupan lama mereka dan masih yakin dengan Simbol-simbol etnik. Termasuk dua jenis dayung dikenal sebagai pria dan wanita atau laut dan hulu sungai. Yang mempunyai bentuk ramping dengan tepi yang memanjang dan sangat bermanfaat digunakan dalam arus deras dan sempit didaerah hulu. Bajau dan Sulu hanya menggunakan dayung laut yang dikenal dengan sebutan dayung Besay Tidoeng ( Besay = Suatu dayung ). Dikenal bahwa dayung wanita membuat suara yang khusus serasi dengan ayunan di sungai seakan-akan bersiul atau atau bernyanyi menurut suku Tidoeng. Secara umum suku Tidoeng memiliki bebrapa corak/keragaman yang luar biasa dengan kelompok yang berdekatan. Sebagai contoh, suku Tidoeng mengadopsi warna kuning( silow ) sebagai warna kesukuan mereka, dengan pertimbangan lebih brilian dan mulia. Mereka sering memakai pakaian warna kuning di acara hiburan rakyat dan menjadi pakaian resmi bagi bulungan dan Tarakan. Suku Tidoeng pada waktu acara agama dan perkawinan memberikan bedak kuning kepada pengantin perempuan dan mempelai pria dari kepala hingga ke kaki ( adat Bebedak ). Suku Tidoeng menghiasi tempat perkawinan mereka dengan warna kuning. Tetua dan Sesepuh Tidoeng juga dimuliakan dan mendapatkan tempat keistimewaan untuk mempertunjukan status mereka dengan memasang bendera kuning disekitar rumah dan kuburan.
Wisata Adat Kota Tarakan
Sejarah
tidak terulang dan manusia sering mengulangi kesalahan karena
mengabaikan Peristiwa - peristiwa yang telah terjadi, dengan ini saya
ingin memberikan ringkasan tentang sejarah dan asal - usul Suku Tidoeng
(Dayak Tidoeng) termasuk salah satu suku dari 405 sukuDayak di
kalimantan. ( Cilik Riwut Kalimantan Membangun, Mika Okushima yang
terjemahkan oleh Drs.H.Asnan Sofyan dalam Bukunya yang berjudul : Latar
Belakang Ethnis Suku Tidoeng dan penguasa yang hilang di pantai Borneo
Timur Laut.
Saya berpikir kalau saya tidak memulai menulis dan menyusun cerita Sejarah Qaum Tidoeng, saya khawatir akan
banyak generasi - generasi Tidoeng atau anak cucu saya tidak mengerti
asal-usul nya sendiri. Oleh sebab itulah saya berusaha sesuai kemampuan
saya dengan di bantu oleh anak menantu yang bernama : H.Eddy Wijaya,
untuk menulis dan menyusun buku ini dengan mengambil bahan-bahan Dokumen
yang tertulis maupun secara lisan yang dapat di percaya dari hasil
kunjungan kami di berbagai wilayah baik di dalam negeri maupun di luar
negeri yang ada kaitannya dengan suku Tidoeng. Seperti di wilayah Cina
Selatan (Yunan Selatan).
Buku
ini akan menjadi Refrensi yang baik bagi masyarakat Kaltim bagian Utara
umumnya dan Ethnis Tidoeng Khususnya karena telah banyak mengetahui
lebih jauh bagaimana asal mula suku Tidoeng yang mendiami pulau,Pantai
wilayah Kaltim bagian Utara (NKRI) dan Pantai Sabah Malaysia Timur.
Harapan kami semoga dengan buku ini dapat Bermanfaat, walaupun yang
saya ketahui masih kurang sempurna dan masih juga banyak kekurangan
data-data Dokumen khusus sejarah Qaum Tidoeng, tpi paling tidak sudah
ada dasar untuk menggali dan melestarikannya dan selanjutnya kita
tinggalkan kepada Generasi -Generasi kita untuk mengenal dirinya sebagai
orang Tidoeng (Dayak - Tidoeng).
Langganan:
Postingan (Atom)